Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Seorang anak selayaknya mendapatkan kasih sayang orangtua dan tumbuh di dalam lingkungan yang mendukungnya untuk berkembang. Namun apa jadinya jika anak tersebut tinggal di dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home? Ini dia Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Selamat datang di salah satu website milik Alfian Herbal yang merupakan agen resmi Green World yang menyediakan berbagai macam obat herbal berkhasiat yang terbuat dari bahan-bahan alami tanpa terkontaminasi bahan kimia.

Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak — Mempunyai keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang merupakan kebahagiaan tak terkira bagi seorang anak. Karena selain menjadi tempat paling nyaman untuknya berbagi cerita serta kebahagiaan, keluarga juga menjadi tempat pembentukan karakter yang pertama dan utama bagi mereka. Sehingga baik buruknya perilaku anak lebuh banyak dipengaruhi oleh hasil didikan orang tuanya.

Bagi orang tua, kehadiran seorang anak merupakan amanah besar dari tuhan kepada kepada hamba yang telah dipercayai-Nya. Dengan demikian, menjaga mereka dengan sebaiknya-baiknya merupakan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua. Salah satunya ialah dengan menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga agar anak-anak mereka bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Akan tetapi, sayangnya tidak semua keluarga bisa memenuhi harapan tersebut. Banyak juga keluarga yang awalnya baik-baik saja kemudian menjadi berantakan seiring munculnya permasalahan dalam rumah tangga mereka. Hal ini ditandai dengan mulai sering terjadinya pertengkaran orang tua, hubungan keluarga yang tidak lagi harmonis, hingga berakhir denga perceraian atau bahkan penelantaran anak. Broken home menjadi istilah umum yang banyak dikenal untuk menyebut keadaan ini.

Penyebab Broken Home

1. terjadinya perceraian

faktor pertama adanya disorientasi tujuan suami istri dalam membangun mahligai rumah tangga; faktor kedewasaan yang mencakup intelektualitas, emosionalitas, dan kemampuan mengelola dan mengatasi berbagai masalah keluarga; pengaruh perubahan dan norma yang berkembang di masyarakat.

2. ke tiada dewasaan sikap orang tua

ke tiadadewasaan sikap orang tua salah satunya dilihat dari sikap egoisme dan egosentrime. egoisme adalah suatu sifat buruk manusia yang mementingkan dirinya sendiri. sedangkan egosentrisme adalah sikap yang  sebagaikan dirinya pusat perhatian yang diusahberencana oleh seseorang  bersama-sama segala cara.

3. orang tua yang kurang memiliki rasa tanggung jawab

 tiada bertanggungjawabnya orang tua salah satunya masalah kesibukan. kesibukan adalah satu kata yang telah melekat pada masyarakat modern di kota-kota. kesibukannya terfokus pada pencarian materi yaitu harta dan uang.

4. jauh dari tuhan

segala sesuatu keburukan perilaku manusia disebabkan karena dia jauh dari tuhan. sebab tuhan mengajarkan agar manusia berbuat baik. jika keluarga jauh dari tuhan dan mengutamberencana materi dunia semata maka kehancuran dalam keluarga itu berencana terjadi.

5. adanya masalah ekonomi

dalam suatu keluarga menanggap kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. istri banyak menuntut hal-hal di luar mberencana dan minum. padahal  bersama-sama penghasilan suami  laksana buruh lepas, hanya dapat memberi mberencana dan rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau.

6. kehilangan kehangatan di dalam keluarga antara orang tua dan anak

kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga menyebabkan hilangnya kehangatan di dalam keluarga antara orang tua dan anak. faktor kesibukan biasanya sering dianggap penyebab utama dari kurangnya komunikasi.

7. adanya masalah pendidikan

masalah pendidikan sering  sebagai penyebab terjadinya broken home. jika pendidikan agak lumayan pada suami istri maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka.

Dampak Broken Home Pada Anak

  • Masalah emosional

Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa remaja dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari segala usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.

Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan reaksi emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka. Rappaport menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik untuk anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.

Lalu, sebuah studi oleh Larson&Larson 1990, menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri pada anak lebih tinggi untuk anak broken home dibandingkan dengan anak di keluarga normal. Tidak ada korelasi yang ditemukan antara kematian orangtua dan bunuh diri dari seorang anak. Namun, bunuh diri tampaknya dipicu oleh penolakan anak oleh orangtua.

  • Masalah pendidikan

Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada anak broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian orangtua. Stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak Anda, tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur dapat berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten.

Menurut sebuah studi oleh University of Western Australia, perempuan yang tidak menikah, janda, dan yang telah bercerai akan lebih mungkin untuk memiliki anak dengan cacat intelektual moderat dibandingkan dengan mereka yang memiliki orangtua lengkap.

  • Masalah sosial

Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal. Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan), yang keduanya merupakan hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman sebaya mereka.

Anak-anak lain mungkin mengalami kecemasan, yang dapat membuat mereka sulit untuk mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan perkembangan yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken home mungkin mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog Carl Pickhardt, dalam artikelnya yang berjudul “Parental Divorce and Adolescents” yang diterbitkan pada Psychology Today.

  • Masalah dinamika keluarga

Menuru hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, namun juga dinamikanya. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda memiliki perceraian secara damai, hal itu hanya menciptakan dua rumah tangga baru yang secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Berdasarkan pengaturan kehidupan yang baru, anak-anak Anda mungkin perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga baru.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya, karena jadwal kerja orangtua mereka atau ketidakmampuan orangtua untuk selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

Terlebih, anak broken home di usia 18-22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku, sehingga banyak dari mereka mendapatkan bantuan psikologis. Sebuah studi oleh Zill menemukan bahwa efek perceraian akan tetap terlihat sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan. Penelitian oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.

Mengatasi Dampak Broken Home pada Anak

Namun jika memang broken home telah menimpa keluarga kita dan  melibatkan anak-anak, maka ada baiknya jika kita segera melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengurangi dampak lebih lanjut yang tidak diinginkan. Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah;

  • Segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab broken home
  • Memperbaiki serta menjaga komunikasi terhadap anak agar tetap lancar dan kondusif
  • Berusaha membuat mereka nyaman sehingga anak bisa lebih terbuka mengenai segala sesuatu yang sedang ia rasakan atau alami
  • Meminta maaf kepada mereka dan menjelaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi
  • Menjelaskan bahwa keadaan tersebut bukan salahnya sehingga ia tidak merasa serba salah
  • Memberi pengertian bahwa ia akan tetap baik-baik saja meski orang tuanya tidak lagi bersama
  • Tidak membatasi pertemuan anak dengan ayah/ibunya
  • Mulai mengarahkannya kepada perilaku-perilaku positif secara perlahan
  • Memberikan pendidikan agama sebagai dasar perilaku normatif
  • Mengisi kegiatan luang mereka dengan hal-hal baru yang produktif dan menyenangkan agar dapat tersalurkan bakatnya
  • Memilihkan lingkungan sekolah maupun keseharian yang baik bagi anak serta mengawasi pergaulan mereka dengan sebaik-baiknya
  • Meminta pertolongan psikolog anak jika dianggap perlu

Itu dia informasi seputar broken home beserta penyebab broken home, Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat..

Terus kunjungi situs https://tehherbaluntukmencegahradangdindinglambung.wordpress.com untuk update informasi seputar kesehatan lainnya.

Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s